Membaca Katrologi Bumi Manusia

Oleh h Tanzil

Judul : Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Apsanti Djokosujatno
Penerbit : Indonesia Tera
Tebal : xvi + 160 hal

Roman Akbar Pramoedya Ananta Toer yang dikenal dengan Tetralogi Bumi Manusia (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) sepertinya tak pernah habis untuk dibicarakan, selain dibicarakan dalam berbagai diskusi buku dan ulasannya muncul di berbagai media dalam dan luar negeri, bahasan tentang roman ini juga telah disajikan dalam bentuk buku yang mencoba mengurai isi dari keempat roman akbar tersebut dari berbagai sudut pandang pengarangnya , antara lain Analisa Ringan Kemelut Roman Karya P. Buru: Bumi Manusia – Adhy Asmara, Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toe- Prof. A. Teeuw, dan lain-lain. Buku Karya Prof. Apsanti Djokosijatno Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer ini mencoba untuk melengkapi referensi tersebut.

Istilah katrologi sendiri adalah istilah yang baru yang diberikan oleh Apsanti untuk merangkum keempat roman akbar Pram yang ditulis di P. Buru. Dalam kata pengantar buku ini Apsanti menjelaskan bahwa istilah “katrologi’ untuk empat novel yang mempuyai ikatan naratif memang tidak terdapat dalam kamus bahasa indoensia manapun (hal xi). Istilah ini menurut Apsanti memang digunakan sebagai pilihan dekat dengan “trilogi” namun sayangnya tak dijelaskan lebih lanjut asal-usul penggunaan istilah “katrologi” tersebut.

Buku ini sendiri merupakan kumpulan essai Apsanti yang mengkaji dan menganalisis Tetralogi Bumi Manusia dari berbagai perspektif. Perspektif sejarah,sosial, politik, psikologis, dll sehingga bisa dikatakan buku ini merupakan tafsir penulis atas keempat roman akbar Pram. Secara berurutan buku setebal 160 halaman ini dibagi dalam sepuluh bab yang masing-masing diberi judul : Pram, Prancis, dan Pencerahan; Kosmopolitisme dan Pengetahuan Ensiklopedis dalam Katrologi Bumi Manusia; Tematik Penciptaan dalam Katrologi Bumi Manusia; Tentang Sastra dalam Fiksi; Minke dan Pengemanan dalam Cahaya Psikoanalisa; Nyai Ontosoroh: sebagai Mother Goddess dan Prototipe Manusia Modern; Struktur Katrologi Bumi Manusia; Tentang Orang Jawa dalam Katrologi Bumi Manusia; dan Perempuan yang Tersanjung.

Walau ditulis oleh seorang akademisi yang berkecimpung dalam bidang teori sastra, buku ini mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca awam yang setidaknya pernah membaca keempat roman akbar Pram. Membaca kesepuluh essai Apsanti ini membuat pembaca terheran-heran karena begitu banyak bahasan dan kekayaan tersembunyi dalam keempat karya Pram tersebut. Tak berlebihan dalam salah satu babnya Apsanti menyebutkan bahwa Katrologi Bumi Manusia adalah novel ensiklopedis karena keempat roman Pram ini menyajikan pengetahuan tentang berbagai hal tanpa batasan dan pengertian geografis. Beragam tema terungkap dalam keempat roman ini antara lain mentalitas berbagai kelompok masyarakat, revolusi, ekbangkitan suatu bangsa, kemanusiaan, pendidikan, perjalanan, dendam, jenis transport hingga tema-tema kecil seperti kucir dan kutu kepala (hal14).

Satu hal yang menarik dalam buku ini, Apsanti sama sekali tidak mengaitkan keempat karya Pram dengan pribadi Pram. Kesemua bahasan dalam buku ini murni hasil dari suatu pembacaan yang pribadi sifatnya dan kontekstual, hal ini membuat buku ini menjadi menarik dan lebih fokus hanya pada karyanya saja dan sama sekali tak menyinggung keterkaitan dengan pribadi Pram.

Yang mungkin agak disayangkan dalam buku ini adalah tidak adanya sinopsis singkat dari keempat katrologi Bumi Manusia yang dibahas di buku ini, sehingga bagi mereka yang belum pernah membaca keempat roman tersebut akan sedikit sulit untuk mengapresiasi buku ini.
Namun bagi mereka yang pernah dan telah membaca Katrologi Bumi Manusia buku ini membantu pembaca untuk menemukan taburan mutiara dalam keempat roman akbar Pramoedya.

@h_tanzil

(http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/01/membaca-katrologi-bumi-manusia.html#links)

One response to “Membaca Katrologi Bumi Manusia

  1. awalnya saya terpaksa membaca bumi manusia karena terpaksa..
    tugas membuat sinopsis roman dari guru bahasa indonesia sayalah yang menjadi jembatan pertemuan saya denagn buku tersebut..
    kesan pertama yang saya temui adalah buku ini memiliki gaya bahasa zaman dahulu tapi mudah sekali di mengerti…ceritanya juga sangat menyentuh…
    Karena bumi manusialah saya jadi mulai tertarik dengan sastra

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s