Membaca Katrologi Bumi Manusia

Oleh h Tanzil

Judul : Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer
Penulis : Apsanti Djokosujatno
Penerbit : Indonesia Tera
Tebal : xvi + 160 hal

Roman Akbar Pramoedya Ananta Toer yang dikenal dengan Tetralogi Bumi Manusia (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) sepertinya tak pernah habis untuk dibicarakan, selain dibicarakan dalam berbagai diskusi buku dan ulasannya muncul di berbagai media dalam dan luar negeri, bahasan tentang roman ini juga telah disajikan dalam bentuk buku yang mencoba mengurai isi dari keempat roman akbar tersebut dari berbagai sudut pandang pengarangnya , antara lain Analisa Ringan Kemelut Roman Karya P. Buru: Bumi Manusia – Adhy Asmara, Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toe- Prof. A. Teeuw, dan lain-lain. Buku Karya Prof. Apsanti Djokosijatno Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer ini mencoba untuk melengkapi referensi tersebut.

Baca lebih lanjut

Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali

pat-dari-dekat-sekali.jpg 

Oleh h Tanzil

Judul : Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali
(Catatan Pribadi Koesalah Seobagyo Toer)
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)
Cetakan : I, Juli 2006
Tebal : xvi + 266 hlm

Pramoedya Ananta Toer, maestro sastra Indonesia telah berpulang di usianya yang ke 81. Sepanjang hidupnya nama dan kiprah-kiprahnya selalu menarik perhatian orang. Namanya semakin berkibar semenjak bebasnya Pram dari pulau Buru, apalagi setelah terbit karya monumentalnya Bumi Manusia (1980). Beberapa saat setelah bukunya beredar pemerintah segera melarang peredarannya. Setiap tulisannya dianggap berbahaya dan karya-karyanya harus dimusnahkan agar tak terbaca oleh siapapun. Namanya dihapus dari sejarah sastra nasional. Lain sikap pemerintah, lain pula sikap pembacanya. Bukunya tetap dibaca secara sembunyi-sembunyi dan menjadi buku yang wajib dibaca oleh para aktivis mahasiswa . Namanya dijadikan ikon perlawanan bagi mereka yang tertindas dan tak puas dengan keadaan negeri ini.

Baca lebih lanjut

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

jrp-jd2.jpg

Oleh h Tanzil

Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels
Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Cetakan : I, Oktober 2005
Tebal : 145 hal
ISBN : 979-97312-8-3

Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1000 km sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Dibangun dibawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu : Herman Willem Daendels (1762-1818). Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jendral Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Degan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.

Baca lebih lanjut

Quotes (1)

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian”

Pramoedya Ananta Toer–

Nyai Ontosoroh

“…Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima.” (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 2002:105)

Oleh Desy Budiyanti*

Runutan Kisah Sanikem

Bisakah seorang perempuan pribumi dari golongan kebanyakan, yang tak pernah mencicipi pendidikan formal, menjadi pengelola perusahaan perkebunan yang kompeten di zaman kolonial? Dalam buku pertama dari empat roman Tetralogi BuruBumi Manusia—Pramoedya Ananta Toer mengajak kita berkenalan dengan seorang perempuan yang luarbiasa. Nyai Ontosoroh, demikian ia dikenal orang. Namun, sebagaimana sebilah pedang tajam yang dulunya cuma segumpal besi tak bermakna, perempuan ini tak sekonyong-konyong terlahir dengan segala kekuatan, kecerdasan dan keteguhannya. Ia telah melewati proses ’menjadi’.

Baca lebih lanjut

Comment Je ‘Rencontre’ PAT

Rini Nurul Badariah

C’est un autre écriture sur Pramoedya Ananta Toer (PAT) après Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Sastra (Pramoedya Ananta Toer et Des Manifestations Littéraires) publié il y a quelques années.

Baca lebih lanjut