<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Pramoedya Institute</title>
	<atom:link href="http://pramoedyainstitute.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pramoedyainstitute.wordpress.com</link>
	<description>Pramoedya Ananta Toer</description>
	<lastBuildDate>Thu, 14 Jun 2007 18:55:13 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='pramoedyainstitute.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Pramoedya Institute</title>
		<link>http://pramoedyainstitute.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://pramoedyainstitute.wordpress.com/osd.xml" title="Pramoedya Institute" />
	<atom:link rel='hub' href='http://pramoedyainstitute.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Membaca Katrologi Bumi Manusia</title>
		<link>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/membaca-katrologi-bumi-manusia/</link>
		<comments>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/membaca-katrologi-bumi-manusia/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 11:31:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramoedyainstitute</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apresiasi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/membaca-katrologi-bumi-manusia/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh h Tanzil Judul : Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer Penulis : Apsanti Djokosujatno Penerbit : Indonesia Tera Tebal : xvi + 160 hal Roman Akbar Pramoedya Ananta Toer yang dikenal dengan Tetralogi Bumi Manusia (Bumi Manusia, Anak &#8230; <a href="http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/membaca-katrologi-bumi-manusia/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=18&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"><strong>Oleh h Tanzil</strong></p>
<p>Judul : Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer<br />
Penulis : Apsanti Djokosujatno<br />
Penerbit : Indonesia Tera<br />
Tebal : xvi + 160 hal</p>
<p>Roman Akbar Pramoedya Ananta Toer yang dikenal dengan Tetralogi Bumi Manusia (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) sepertinya tak pernah habis untuk dibicarakan, selain dibicarakan dalam berbagai diskusi buku dan ulasannya muncul di berbagai media dalam dan luar negeri, bahasan tentang roman ini juga telah disajikan dalam bentuk buku yang mencoba mengurai isi dari keempat roman akbar tersebut dari berbagai sudut pandang pengarangnya , antara lain Analisa Ringan Kemelut Roman Karya P. Buru: Bumi Manusia &#8211; Adhy Asmara, Citra Manusia Indonesia dalam Karya Sastra Pramoedya Ananta Toe- Prof. A. Teeuw, dan lain-lain. Buku Karya Prof. Apsanti Djokosijatno Membaca Katrologi Bumi Manusia Pramoedya Ananta Toer ini mencoba untuk melengkapi referensi tersebut.</p>
<p></font><span id="more-18"></span><font size="2">Istilah katrologi sendiri adalah istilah yang baru yang diberikan oleh Apsanti untuk merangkum keempat roman akbar Pram yang ditulis di P. Buru. Dalam kata pengantar buku ini Apsanti menjelaskan bahwa istilah &#8220;katrologi&#8217; untuk empat novel yang mempuyai ikatan naratif memang tidak terdapat dalam kamus bahasa indoensia manapun (hal xi). Istilah ini menurut Apsanti memang digunakan sebagai pilihan dekat dengan &#8220;trilogi&#8221; namun sayangnya tak dijelaskan lebih lanjut asal-usul penggunaan istilah &#8220;katrologi&#8221; tersebut.</p>
<p>Buku ini sendiri merupakan kumpulan essai Apsanti yang mengkaji dan menganalisis Tetralogi Bumi Manusia dari berbagai perspektif. Perspektif sejarah,sosial, politik, psikologis, dll sehingga bisa dikatakan buku ini merupakan tafsir penulis atas keempat roman akbar Pram. Secara berurutan buku setebal 160 halaman ini dibagi dalam sepuluh bab yang masing-masing diberi judul : Pram, Prancis, dan Pencerahan; Kosmopolitisme dan Pengetahuan Ensiklopedis dalam Katrologi Bumi Manusia; Tematik Penciptaan dalam Katrologi Bumi Manusia; Tentang Sastra dalam Fiksi; Minke dan Pengemanan dalam Cahaya Psikoanalisa; Nyai Ontosoroh: sebagai Mother Goddess dan Prototipe Manusia Modern; Struktur Katrologi Bumi Manusia; Tentang Orang Jawa dalam Katrologi Bumi Manusia; dan Perempuan yang Tersanjung.</p>
<p>Walau ditulis oleh seorang akademisi yang berkecimpung dalam bidang teori sastra, buku ini mudah dibaca dan dipahami oleh pembaca awam yang setidaknya pernah membaca keempat roman akbar Pram. Membaca kesepuluh essai Apsanti ini membuat pembaca terheran-heran karena begitu banyak bahasan dan kekayaan tersembunyi dalam keempat karya Pram tersebut. Tak berlebihan dalam salah satu babnya Apsanti menyebutkan bahwa Katrologi Bumi Manusia adalah novel ensiklopedis karena keempat roman Pram ini menyajikan pengetahuan tentang berbagai hal tanpa batasan dan pengertian geografis. Beragam tema terungkap dalam keempat roman ini antara lain mentalitas berbagai kelompok masyarakat, revolusi, ekbangkitan suatu bangsa, kemanusiaan, pendidikan, perjalanan, dendam, jenis transport hingga tema-tema kecil seperti kucir dan kutu kepala (hal14).</p>
<p>Satu hal yang menarik dalam buku ini, Apsanti sama sekali tidak mengaitkan keempat karya Pram dengan pribadi Pram. Kesemua bahasan dalam buku ini murni hasil dari suatu pembacaan yang pribadi sifatnya dan kontekstual, hal ini membuat buku ini menjadi menarik dan lebih fokus hanya pada karyanya saja dan sama sekali tak menyinggung keterkaitan dengan pribadi Pram.</p>
<p>Yang mungkin agak disayangkan dalam buku ini adalah tidak adanya sinopsis singkat dari keempat katrologi Bumi Manusia yang dibahas di buku ini, sehingga bagi mereka yang belum pernah membaca keempat roman tersebut akan sedikit sulit untuk mengapresiasi buku ini.<br />
Namun bagi mereka yang pernah dan telah membaca Katrologi Bumi Manusia buku ini membantu pembaca untuk menemukan taburan mutiara dalam keempat roman akbar Pramoedya.</p>
<p>@h_tanzil</p>
<p>(<a href="http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/01/membaca-katrologi-bumi-manusia.html#links">http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/01/membaca-katrologi-bumi-manusia.html#links</a>)</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=18&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/membaca-katrologi-bumi-manusia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd60aa0a34902a9384c2f0e5e31d4c5e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pramoedyainstitute</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali</title>
		<link>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/pramoedya-ananta-toer-dari-dekat-sekali/</link>
		<comments>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/pramoedya-ananta-toer-dari-dekat-sekali/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 11:26:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramoedyainstitute</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apresiasi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/pramoedya-ananta-toer-dari-dekat-sekali/</guid>
		<description><![CDATA[  Oleh h Tanzil Judul : Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali (Catatan Pribadi Koesalah Seobagyo Toer) Penulis : Koesalah Soebagyo Toer Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) Cetakan : I, Juli 2006 Tebal : xvi + 266 hlm Pramoedya &#8230; <a href="http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/pramoedya-ananta-toer-dari-dekat-sekali/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=17&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"><a href="http://pramoedyainstitute.files.wordpress.com/2007/05/pat-dari-dekat-sekali.jpg" title="pat-dari-dekat-sekali.jpg"><img src="http://pramoedyainstitute.files.wordpress.com/2007/05/pat-dari-dekat-sekali.thumbnail.jpg?w=500" alt="pat-dari-dekat-sekali.jpg" /></a> </p>
<p><strong>Oleh h Tanzil</strong></p>
<p>Judul : Pramoedya Ananta Toer dari Dekat Sekali<br />
(Catatan Pribadi Koesalah Seobagyo Toer)<br />
Penulis : Koesalah Soebagyo Toer<br />
Penerbit : Kepustakaan Populer Gramedia (KPG)<br />
Cetakan : I, Juli 2006<br />
Tebal : xvi + 266 hlm</p>
<p>Pramoedya Ananta Toer, maestro sastra Indonesia telah berpulang di usianya yang ke 81. Sepanjang hidupnya nama dan kiprah-kiprahnya selalu menarik perhatian orang. Namanya semakin berkibar semenjak bebasnya Pram dari pulau Buru, apalagi setelah terbit karya monumentalnya Bumi Manusia (1980). Beberapa saat setelah bukunya beredar pemerintah segera melarang peredarannya. Setiap tulisannya dianggap berbahaya dan karya-karyanya harus dimusnahkan agar tak terbaca oleh siapapun. Namanya dihapus dari sejarah sastra nasional. Lain sikap pemerintah, lain pula sikap pembacanya. Bukunya tetap dibaca secara sembunyi-sembunyi dan menjadi buku yang wajib dibaca oleh para aktivis mahasiswa . Namanya dijadikan ikon perlawanan bagi mereka yang tertindas dan tak puas dengan keadaan negeri ini.</p>
<p></font><span id="more-17"></span><font size="2">Setelah era reformasi bergulir dan karya-karyanya diterbitkan ulang, nama Pram semakin melambung tinggi. Setiap kiprahnya selalu menarik perhatian orang, belum lagi ditambah dengan sejumlah penghargaan dari luar negeri yang terus menerus mengalir diberikan padanya. Setiap tahun namanya selalu dikait-kaitkan dengan anugerah Nobel Sastra. Berbagai media berlomba menyajikan berita dan wawancara mengenai dirinya. Hampir semua berkisar mengenai karya-karyanya, sikap politiknya, pandangan-pandangannya terhadap kondisi poilitik, sosial, dll.</p>
<p>Berbagai buku tentangnya telah ditulis, namun tak satupun menyentuh kehidupan pribadinya. Kehidupan pribadinya tenggelam dalam kebesaran namanya. Kini beberapa bulan setelah wafatanya, barulah muncul sebuah buku yang mencoba menghadirkan sosok Pram yang apa adanya dari kacamata Koesalah Soebagyo Toer selaku adik kandungnya yang memiliki hubungan yang paling dekat dengannya.<br />
Buku yang ditulis oleh Koesalah ST ini merupakan catatan pribadinya mengenai persinggungannya dengan Pramoedya yang ia tulis dari tahun 1981 hingga 20 April 2006, sepuluh hari sebelum wafatnya Pram. Karena merupakan catatan pribadi, setiap catatannya bersifat personal, ada yang pendek (1/2 halaman) hingga yang panjang (5-6 halaman).</p>
<p>Dalam buku ini Koesalah menyajikan 75 catatan hariannya yang dibagi dalam 3 bagian besar yang dipilah berdasarkan urutan waktu ditulisnya catatan-catatan tersebut. Bagian Pertama (1981-1986), Bagian Kedua (1987-1992), dan bagian Ketiga (1992-2006). Seperti yang menjadi harapan pembacanya, buku ini banyak sekali memuat sisi-sisi menarik dari aktifitas kehidupan Pram sehari-hari baik yang menyangkut perannya sebagai penulis dan dokumentator maupun perannya sebagai kepala rumah tangga yang belum pernah terungkap selama ini.</p>
<p>Dalam hal Pram dan pekerjaannya, misalnya akan terungkap bagaimana gembiranya Pram ketika baru saja memperoleh dokumen yang berisi tulisan Soekarno kepada seorang bernama J.E. Stokvis di tahun 1931. Ternyata dalam dokumen tersebut terdapat pula surat-surat Dr. Tjipto, MH Thamrin yang sangat berharga bagi pengungkapan sejarah Indonesia yang pastinya tidak dipunyai oleh orang Indonesia manapun juga (hal 7). Karena itulah bagi Pram penemuan ini sangat menggembirakan hatinya seperti yang dicatat oleh Koesalah sbb : <em>&#8220;Ini betul-betul bonanza! Kalau nanti kuumumkan semua pasti baca!&#8221;. &#8220;Kalau bukti ini ada, bakal geger semuanya!&#8221;</em> (hal <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_cool.gif' alt='8)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Uniknya catatan harian ini tidak hanya berkisah mengenai keadaan Pram dimasa ketika catatan ini ditulis, melainkan merambah kemasa lalu Pram baik ketika masa kecilnya, masa revolusi kemerdekaan hingga masa-masa ketika Pram dalam tahanan.<br />
Dimasa kecilnya, sebagai anak tertua, ternyata,Pram kerap membacakan dongeng bagi adik-adiknya yang ia dapatkan dari sebuah buku tebal dengan huruf Jawa, antara lain tentang dua ekor nyamuk yang masing-masing bernama Klentreng dan Gothang, lalu ada pula dongeng karyanya tentang kancil blangkonan (hal 128).</p>
<p>Siapa sangka di masa mudanya saat berada dalam penjara Bukitduri, Pram pernah berniat untuk bunuh diri ?. Hal ini terungkap di catatan harian Koesalah yang diberi judul Mas Pram dan Mati (hal 177). Menurut kisahnya yang dituturkan pada Koesalah saat itu Pram yang sedang dalam tahanan Belanda putusasa karena energinya yang begitu besar-membludak- tak tersalurkan karena tidak bisa berbuat apa-apa . Ia berniat melakukan ‘patiraga’ (mematikan raga). <em>Hampir saja nyawanya lenyap. &#8220;Dan tiba-tiba kelihatan di mukaku, di atas sana, bangunan gedung Yunani dengan pilar-pilarnya yang besar, dan di atasnya atap segitiga itu. Di atas atap itu bersinar cahaya terang benderang melalap tubuhku…&#8221;Tiba-tiba…duarrr! Terdengar ledakan yang keras sekali. Begitu keras! Sampai sekujur tubuhku menggigil. Lalu nyawaku kembali…</em> &#8220;(hal 178)</p>
<p>Pengalaman mencoba menghabisi nyawanya itu membuat Pram yakin bahwa jika belum waktunya mati, ia tak akan mati <em>&#8220;Kalau mau mati, dari dulu-dulu aku sudah mati,&#8221; katanya. &#8220;Buatku, mati itu bukan apa-apa. Aku nggak takut mati. Menghadapi pemerintah ini juga aku nggak takut.&#8221;</em> (hal 180)</p>
<p>Penglihatan Pram saat akan melakukan patiraga mungkin merupakansalah satu pengalaman adikodrati yang dialaminya, lalu bagaimana dengan kehidupan religiusnya? Hal ini mungkin yang paling jarang terungkap selama ini, dalam catatan hariannya yang berjudul Mas Pram dan Doa (hal 210), Koesalah mencatat bahwa ia pernah melihat Pram sembahyang sewaktu sama-sama ditahan di penjara Salemba ada tahun 1969. Dan ketika ditanya apakah Pram pernah mengaji ? Pram menjawab dengan mantap bahwa waktu kecil ia mengaji walau belum sempat katam.</p>
<p>Salah satu kegemaran Pram selepas dari P. Buru adalah kebiasaannya membakar sampah, Koesalah mencatat bahwa Pram setiap hari membakar sampah. Tepat di rumahnya di Jl. Multikarya – Utan Kayu, ada rumah yang telah ditinggalkan penghuninya hingga rumah tersebut menjadi bobrok. Di situlah surga bagi Mas Pram. Tiap hari ia &#8220;bekerja&#8221; di tempat sampah…Ia tampak bahagia apabila sampah sudah mengonggok dan api melalapnya. (hal 225).</p>
<p>Selepas membakar sampah Pram tak pulang dengan tangan kosong, terkadang ia membawa pecahan-pecahan keramik, di rumahnya pecahan keramik itu ia &#8220;lukis&#8221; menjadi mozaik tegel yang menarik dan bercita rasa seni. Tegel-tegel dikerjakannya sendiri dan ketika sudah banyak Pram memasangnya sendiri di sebagian teritis rumahnya (226).</p>
<p>Yang menarik di ‘tempat sampah’ itu Pram juga pernah menemukan buku Peristiwa coup Berdarah P.K.I. September 1948 di Madiun, tulisan Pinardi, terbitan 1967. Tentu saja ini merupakan harta karun bagi Pram selaku penulis dan pendokumenter. Buku yg sudah rusak dan kotor itu ia tata kembali dan diberi sampul baru dan diberikan pada Koesalah. <em>&#8220;Ini bahan bagus buat Kronik,&#8221; katanya.</em> (hal l226). Buku termuannya itu memang akhirnya menjadi salah satu sumber bagi Koesalah, Pram, dan Ediati Kamil dalam menyusun buku &#8220;Kronik Revolusi Indonesia jilid IV yang berisi peristiwa-peristiwa penting di tahun 1948.</p>
<p>Saat-saat terakhir hidup Pram dimana berbagai penyakit mulai menggerogot, dan Pram yang sudah mulai pikun juga terungkap dalam buku ini, beberapa kali pada Koesalah Pram mengeluhkan soal diabetesnya, dadanya yang sakit, otaknya yang tidak mampu lagi bekerja dengan baik, dll. Sayang, buku ini tak memuat catatan mengenai hari-hari terakhir Pram menjelang dirinya menghembuskan nafas terakhirnya. Padahal buku ini diterbitkan satu bulan setelah wafatnya Pram, dan tentunya cukup waktu untuk memberi catatan saat Pram berjuang melawan maut dan bagaimana suasana saat-saat Pram dikebumikan</p>
<p>Selain catatan-catatan yang dibuat secara narasi, buku ini memuat pula sejumlah tulisan berupa wawancara/percakapan antara Koesalah dengan Pram sehingga pembaca seakan membaca tuturan langsung dari Pram mengenai hal-hal yang ditanyakan oleh adiknya.</p>
<p>Masih banyak kisah-kisah menarik mengenai keseharian Pram dicatat dalam buku ini. Ada yang lucu, unik, mengharukan, menjengkelkan dan sebagainya. Semua disampaikan oleh Koesalah secara jujur dan apa adanya. Beberapa catatan membuat kita bangga dengan sikap dan pandangan Pram dalam menanggapi persoalan-persoalan negeri ini, kadang tertawa oleh anekdot-anekdot Pram, namun ketika menjumpai kisahnya yang mengungkap bagaimana keras kepalanya Pram dan sikap cueknya terhadap keluarga besarnya kitapun akan dibuat jengkel dan sebal pada sikapnya. Bisa dikatakan buku ini merupakan buku pertama mengenai Pram yang memuat segala aspek kehidupan Pram, mulai dari masa kecil, dewasa, perkawinannya, pandangan-pandangan hidupnya, masa tuanya, harapan-harapan dan mimpi-mimpinya, dan sebagainya.</p>
<p>Apa alasan Koesalah menyebarluaskan catatan-catatan hariannya yang menyangkut persinggungan dirinya dengan Pram ? Dalam kata pengantarnya Koesalah menulis bahwa hal ini sebagai pernyataan tanggung jawab dirinya terhadap pembaca karya-karya Pram, masyarakat Indonesia dan dunia. Ia mencatat semua ini sebagai kenyataan bahwa disamping semua yang sudah pernah ataupun sedang ditulis tentang Pram, masih ada hal-hal lain yang harus dikemukakannya. Dengan demikian orang dapat memahami Pram sebagai sosok nyata, bukan manusia dalam angan-angan atau lamunan (hal xvi)</p>
<p>Sayang Koesalah tak menjelaskan mengapa ia mulai mencatat di tahun 1981 ? Apakah sebelum tahun itu ia memang tak memiliki catatan tentang kakaknya ? Ataukah di tahun 1981 ia memiliki visi bahwa kelak kakaknya akan menjadi orang terkenal sehingga ia mulai mencatat pengalamannya dengan Pram agar kelak bisa diterbitkan ? Juga tak dijelaskan atas dasar apa dan mengapa buku ini dibagi menurut pembagian waktu seperti yang tercetak di buku ini. Padahal jika saja pembagiannya berdasarkan tema-tema tertentu yang muncul seperti Pram dan Karya-karyanya, Pram dan Keluarga, Pram dan kesehatannya, dll, tentunya ini akan memudahkan pembaca dalam memahami Pram dari sudut pandang tema-tema tersebut.</p>
<p>Secara keseluruhan, bagi pembaca karya-karya Pram buku ini akan sangat menarik karena berhasil mengungkap sisi-sisi kehidupan Pram yang selama ini tersembunyi oleh kebesaran namanya. Selain itu beberapa aspek politis dan historis juga akan kita temui dalam buku ini. Karena keragaman dan kelengkapan tema yang terdapat didalamnya bukan tak mungkin buku ini akan dijadikan pijakan awal atau buku pegangan bagi mereka yang kelak akan menulis biografi Pramoedya secara utuh dan komprehensif. Atau mungkin kelak Koesalah sendiri yang akan menulis Biografi kakaknya secara runut dan mendalam ?</p>
<p>Ya! Sudah saatnya maestro sastra Indonesia Pramoedya Ananta Toer dibuatkan biografinya!</p>
<p>@h_tanzil</p>
<p>(<a href="http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/09/pramoedya-ananta-toer-dari-dekat.html#links">http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/09/pramoedya-ananta-toer-dari-dekat.html#links</a>)</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=17&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/pramoedya-ananta-toer-dari-dekat-sekali/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd60aa0a34902a9384c2f0e5e31d4c5e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pramoedyainstitute</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pramoedyainstitute.files.wordpress.com/2007/05/pat-dari-dekat-sekali.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">pat-dari-dekat-sekali.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels</title>
		<link>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/jalan-raya-pos-jalan-daendels/</link>
		<comments>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/jalan-raya-pos-jalan-daendels/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 May 2007 11:17:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramoedyainstitute</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apresiasi Buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/jalan-raya-pos-jalan-daendels/</guid>
		<description><![CDATA[Oleh h Tanzil Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels Penulis : Pramoedya Ananta Toer Penerbit : Lentera Dipantara Cetakan : I, Oktober 2005 Tebal : 145 hal ISBN : 979-97312-8-3 Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1000 km sepanjang &#8230; <a href="http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/jalan-raya-pos-jalan-daendels/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=15&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"><strong><a href="http://pramoedyainstitute.files.wordpress.com/2007/05/jrp-jd2.jpg" title="jrp-jd2.jpg"><img src="http://pramoedyainstitute.files.wordpress.com/2007/05/jrp-jd2.thumbnail.jpg?w=500" alt="jrp-jd2.jpg" /></a></strong></p>
<p><strong>Oleh h Tanzil</strong></p>
<p>Judul : Jalan Raya Pos, Jalan Daendels<br />
Penulis : Pramoedya Ananta Toer<br />
Penerbit : Lentera Dipantara<br />
Cetakan : I, Oktober 2005<br />
Tebal : 145 hal<br />
ISBN : 979-97312-8-3</p>
<p>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, membentang 1000 km sepanjang utara Pulau Jawa, dari Anyer sampai Panarukan. Dibangun dibawah perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu : Herman Willem Daendels (1762-1818). Ketika baru saja menginjakkan kakinya di Pulau Jawa Daendels berangan untuk membangun jalur transportasi sepanjang pulau Jawa guna mempertahankan Jawa dari serangan Inggris. Angan-angan Daendels untuk membangun jalan yang membentang antara Pantai Anyer hingga Panarukan, direalisasikannya dengan mewajibkan setiap penguasa pribumi lokal untuk memobilisasi rakyat, dengan target pembuatan jalan sekian kilometer. Yang gagal, termasuk para pekerjanya, dibunuh. Kepala mereka digantung di pucuk-pucuk pepohonan di kiri-kanan ruas jalan. Gubernur Jendral Daendels memang menakutkan. Ia kejam, tak kenal ampun. Degan tangan besinya jalan itu diselesaikan hanya dalam waktu setahun saja (1808). Suatu prestasi yang luar biasa pada zamannya. Karena itulah nama Daendels dan Jalan Raya Pos dikenal dan mendunia hingga kini.</p>
<p></font><span id="more-15"></span><font size="2">Walau Jalan Raya Pos dikenal dan selalu diajarkan di bangku-bangku sekolah namun bisa dikatkan tak ada buku yang secara khusus mengungkap sejarah pembuatan dan sisi-sisi kelam dibalik pembuatan Jalan Raya Pos. Buku terbaru karya Pramoedya Ananta Toer(Pram) ini bisa dikatakan dapat mengisi kekosongan literatur Jalan Raya Pos dalam khazanah buku-buku berlatar belakang sejarah dewasa ini. Walau buku ini bukan merupakan buku sejarah resmi, namun buku yang ditulis Pram dimasa tuanya ini (1995) dapat dijadikan sebuah buku yang mengungkap dan memberi kesaksian tentang peristiwa kemanusiaan yang mengerikan dibalik pembangunan Jalan Raya Pos.</p>
<p>Buku ini ditulis dengan mengalir, tanpa pembagian bab. Pada halaman-halaman awal Pram mengurai awal ketertarikannya pada Jalan Raya Pos yang memakan banyak korban jiwa para pekerja paksa yang ia golongkan sebagai genosida, pembunuhan besar-besaran ia juga menyinggung beberapa genosida yang awalnya dilakukan oleh Jan Pietersz Coen (1621) di Bandaneira, Daendels dengan Jalan Raya Posnya (1808), Cuulturstelsel alias tanam paksa, genosida pada jaman Jepang di Kalimantan, genocida oleh Westerling (1947) hingga genosida terbesar dalam sejarah bangsa Indoenesia di awal-awal pemerintahan Orde Baru. Di halaman-halaman selanjutnya setelah mengurai sejarah tercetusnya ide pembuatan Jalan Raya Pos di benak Daendels Pram membagi bukunya ini berdasarkan kota-kota yang dilewati dan berada disepanjang Jalan Raya Pos. Pram mencatat dan mengurai 39 kota yang berada dalam jalur Jalan Raya Pos, baik kota-kota besar seperti Batavia,Bandung, Semarang, Surabaya, maupun kota-kota kecil yang namanya jarang terdengar bagi masyarakat umum seperti Juwana, Porong, Bagil dan lain-lain. Secara rinci Pram mengungkap sejarah terbentuknya kota-kota tersebut, dampak sosial saat dibangunnya Jalan Raya Pos, hingga keadaan kota-kota tersebut pada masa kini. Dengan sendirinya masa-masa kelam ketika Jalan Raya Pos dikerjakan akan terungkap di buku ini. Ketika Jalan Raya Pos sampai di kota Sumedang dimana pembangunan jalan harus melalui daerah yang sangat berat ditembus, di daerah Ciherang Sumedang, yang kini dikenal dengan nama Cadas Pangeran. Para pekerja paksa harus memetak pegunungan dengan peralatan sederhana, seperti kampak, dan lain-lain. Dengan medan yang demikian beratnya inilah untuk pertama kalinya ada angka jumlah korban yang jatuh, 5000 orang! Ketika pembangunan jalan sampai di daerah Semarang, Daendels mencoba menghubungkan Semarang dengan Demak. Kembali medan yang sulit menghadang. Bukan hanya karena tanahnya tertutup oleh rawa-rawa pantai, juga karena sebagian daripadanya adalah laut pedalaman atau teluk-teluk dangkal. Untuk itu kerja pengerukan rawa menjadi hal utama. Walau angka-angka korban di daerah ini tidak pernah dilaporkan, mudah diduga betapa banyaknya kerja paksa yang kelelahan dan lapar itu menjadi makanan empuk malaria yang ganas (hal 94). Sumber Inggris melaporkan seluruh korban yang tewas akibat pembangunan Jalan raya Pos sebanyak 12.000 orang!. Itu yang tercatat, diyakini jumlah korban lebih dari itu. Tak pernah ada komisi resmi yang menyelidiki.</p>
<p>Selain mengungkap sisi-sisi kelam dibalik pembangunan Jalan Raya Pos, Pram juga senantiasa menyelipkan penggalan kenangan-kenangan masa muda dirinya pada kota-kota disepanjang Jalan Raya Pos yang pernah ia singgahi. Ada kenangan yang pahit, mengesankan, dan lucu yang pernah dialaminya di berbagai kota yang ditulisnya di buku ini. Sebut saja pengalaman lucu ketika Pram muda yang sedang dalam tugas ketentaraannya bertugas di daerah Cirebon, dalam kegelapan malam secara tak disengaja ia pernah buang hajat disebuh tungku dapur yang disangkanya kakus, padahal tungku itu masih berisi sisa singkong rebus untuk rangsum para laskar rakyat.(hal 79)..O la la….!</p>
<p>Buku ini diutup dengan bab &#8220;Dan Siapa Daendels&#8221; yang ditulis oleh Koesalah Soebagyo Toer. Dalam bab ini diuraikan biografi singkat Daendels. Selain itu bagian daftar pustaka yang menyajikan sumber-sumber pustaka yang digunakan Pram untuk menyusun buku ini mencakup buku-buku yang terbit dipertengahan abad ke 19 hingga akhir abad ke 20. Tak heran jika membaca karya ini pembaca akan mendapatkan hal-hal yang detail mengenai sejarah kota yang dilalui oleh Jalan Raya Pos. Yang patut disayangan pada buku ini adalah tidak adanya peta yang secara jelas menggambarkan rute-rute Jalan Raya Pos. Buku ini hanya menyijikan reproduksi dari peta kuno yang diambil dari Rijks Museum Amsterdam (hal 129). Peta yang tak mnggambarkan Pulau Jawa secara utuh dan huruf yang tak terlihat pada peta tersebut tentu saja menyulitkan pembaca untuk memperoleh gambaran akan sebuah jalan yang dibuat Daendels sepanjang Anyer hingga Panarukan ini.</p>
<p>Jalan Raya Pos, Jalan Daendels diselesaikan oleh Pramoedya pada tahun 1995, entah apa yang membuat buku ini harus menuggu 10 tahun untuk diterbitkan, tak ada penjelasan dari penerbit mengenai mengapa baru sekarang buku ini diterbitkan, padahal beberapa tahun setelah karya ini diselesaikan era reformasi memungkinkan diterbitkannya karya-karya Pram secara bebas. Namun walau bisa ditakan terlambat diterbitkan, buku ini masih sangat relevan untuk dibaca oleh siapa saja karena buku ini merupakan sebuah buku kesaksian tentang peristiwa genosida kemanusiaan paling mengerikan dibalik pembangunan sebuah jalan sepanjang 1000 km yang dibangun beraspalkan darah dan air mata manusia-manusia pribumi yang dipaksa untuk membangunnya.</p>
<p>@h_tanzil (<a href="http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/01/jalan-raya-pos-jalan-daendels.html#links">http://bukuygkubaca.blogspot.com/2006/01/jalan-raya-pos-jalan-daendels.html#links</a>)</p>
<p></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=15&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/10/jalan-raya-pos-jalan-daendels/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd60aa0a34902a9384c2f0e5e31d4c5e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pramoedyainstitute</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://pramoedyainstitute.files.wordpress.com/2007/05/jrp-jd2.thumbnail.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">jrp-jd2.jpg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Quotes (1)</title>
		<link>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/8/</link>
		<comments>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/8/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2007 22:06:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramoedyainstitute</dc:creator>
				<category><![CDATA[Quotes]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/8/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian&#8221; &#8211; Pramoedya Ananta Toer&#8211;<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=8&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><font size="2">&#8220;Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian&#8221;</font></em></p>
<p><em><font size="2">&#8211; <strong>Pramoedya Ananta Toer&#8211;</strong></font></em></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=8&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/8/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd60aa0a34902a9384c2f0e5e31d4c5e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pramoedyainstitute</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Nyai Ontosoroh</title>
		<link>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/nyai-ontosoroh/</link>
		<comments>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/nyai-ontosoroh/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2007 21:44:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramoedyainstitute</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apresiasi Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/nyai-ontosoroh/</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;…Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima.&#8221; (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 2002:105) Oleh Desy Budiyanti* Runutan Kisah Sanikem Bisakah seorang perempuan pribumi dari golongan kebanyakan, yang tak pernah mencicipi pendidikan formal, menjadi pengelola perusahaan perkebunan &#8230; <a href="http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/nyai-ontosoroh/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=7&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"></p>
<p align="justify"><em>&#8220;…Hidup bisa memberikan segala pada barang siapa tahu dan pandai menerima.&#8221; (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 2002:105)</em></p>
<p align="justify"><strong>Oleh Desy Budiyanti*</strong></p>
<p align="justify"><strong>Runutan Kisah Sanikem</strong></p>
<p align="justify">Bisakah seorang perempuan pribumi dari golongan kebanyakan, yang tak pernah mencicipi pendidikan formal, menjadi pengelola perusahaan perkebunan yang kompeten di zaman kolonial? Dalam buku pertama dari empat roman <em>Tetralogi Buru</em>—<em>Bumi Manusia</em>—Pramoedya Ananta Toer mengajak kita berkenalan dengan seorang perempuan yang luarbiasa. Nyai Ontosoroh, demikian ia dikenal orang. Namun, sebagaimana sebilah pedang tajam yang dulunya cuma segumpal besi tak bermakna, perempuan ini tak sekonyong-konyong terlahir dengan segala kekuatan, kecerdasan dan keteguhannya. Ia telah melewati proses <em>’menjadi’</em>.</p>
<p></font><span id="more-7"></span><font size="2"></p>
<p align="justify">Sanikem namanya dulu, ketika itu hitungan tahun hidupnya baru menggenap empat belas. Ayahnya, jurutulis Sastrotomo, punya ambisi menjadi seorang juru bayar—seorang <em>kassier</em>—jabatan yang menurutnya identik dengan harta dan penghormatan. Untuk ambisi itu semata, Sastrotomo lantas menjual Sanikem pada seorang Belanda totok—Tuan Administratur, Tuan Besar Kuasa. Sanikem yang lugu mengalami transformasinya yang pertama: dari seorang anak perempuan yang berayah-beribu, jadi seorang Nyai—perempuan yang tidak dinikahi secara sah, tapi punya berbagai kewajiban serupa kewajiban istri.</p>
<p align="justify">Herman Mellema—lelaki Belanda itu—kemudian mengajarinya membaca, menulis, dan berhitung. Pelan-pelan ia juga belajar bahasa Belanda dan Melayu, lalu menggunakan kedua bahasa itu untuk menulis dan bicara. Dengan kedua bahasa itu pula, ia mulai meluaskan wawasan dan menggali pengetahuan. Tak hanya itu, ia juga ditempa untuk tak kalah terampil dengan perempuan kulit putih mana pun dalam menata rumah, memasak, dan berperilaku sesuai dengan etiket kesopanan ala barat.</p>
<p align="justify">Gadis lugu bernama Sanikem pelan memudar dan lantas lenyap. Dalam tubuh itu kini, seorang perempuan terampil dan mandiri yang dikenal orang sebagai Nyai Ontosoroh. Sepintas nampaknya nasib baik berpihak pada Sanikem—eh, maksud saya, Nyai Ontosoroh. Kehidupannya bersama Herman Mellema dikaruniai dua orang anak: Robert Mellema dan Annelies Mellema. Berempat mereka berbahagia, mungkin mirip dengan iklan-iklan layanan masyarakat tentang Keluarga Berencana.</p>
<p align="justify">Tapi hidup tak selamanya mulus tak bercacat. Bagaimanapun Nyai Ontosoroh tetaplah tak lebih dari seorang gundik. Seorang budak. Masalah muncul tiba-tiba, seperti badai tropis yang mendadak datang tanpa diundang. Menyapu segala yang ada, memuntahkan sisa puing-puing belaka. Sejak kedatangan Maurits Mellema—anak dari pernikahan sah Herman Mellema di Belanda—hantaman hidup datang bertubi-tubi pada Nyai Ontosoroh. Mulai dari Herman Mellema yang kehilangan dirinya, menjadi linglung dan tak peduli lagi pada apapun di sekitarnya; hingga anak lelakinya, Robert, yang membenci separuh dirinya yang pribumi, kemudian melontarkan kebencian itu kepada ibunya. Nyai Ontosoroh terpaksa menjalani hidupnya dengan beban yang terasa terus bertambah. Satu-satunya yang tetap mengasihi dan senantiasa membantunya adalah Annelies, anak perempuannya. Inilah transformasinya yang kedua: perempuan pekerja yang tegar, <em>enterpreneur</em> yang andal.</p>
<p align="justify">Kehadiran Minke membawa sedikit kesegaran dalam kehidupan keluarga yang sedang diselimuti kemurungan ini. Annelies dan Minke kemudian menikah, tentulah ini sangat membahagiakan Nyai Ontosoroh. Tapi kebahagiaan ini tak berlangsung lama. Herman Mellema meninggal, dan kepergiannya menyisakan babak baru dalam kehidupan Nyai Ontosoroh. Perusahaannya direbut darinya. Tak hanya itu, Annelies—anak perempuan kesayangannya yang rapuh—direnggut pula dari pelukannya. Tak ada yang bisa ia lakukan untuk mempertahankan segala yang (ia kira) selama ini menjadi miliknya. Semua yang sudah ia rawat—ia besarkan—dengan penuh kasih dan ketelatenan ternyata bukan miliknya. Tak pernah jadi miliknya. Kesadaran ini membawanya pada transformasinya yang terakhir: ia pulang ke titik nadir.</p>
<p align="justify"><strong>Perempuan Sanikem, Perempuan Indonesia</strong></p>
<p align="justify">Nyai Ontosoroh: perempuan biasa yang luarbiasa. Sebagian dari kita mungkin sudah melahap kisahnya berulangkali. Kisah ini sendiri dilatari masa pergerakan di awal abad 20. Memang, mengingat latar waktu yang telah sedemikian silam, tak mengherankan jika ada yang berpikir bahwa nasib perempuan Indonesia sekarang tentu sudah jauh lebih baik dari nasib Nyai Ontosoroh. Benarkah demikian?</p>
<p align="justify">Dalam berbagai pembahasan mengenai bentuk-bentuk ketidakadilan yang banyak menimpa perempuan, dikenal ada lima bentuk ketidakadilan yang paling signifikan, yaitu: marjinalisasi, subordinasi, beban-ganda (<em>multi-burden)</em>, pelabelan (<em>stereotype),</em> dan kekerasan. Dalam menilik kisah Nyai Ontosoroh, kita menemui semua bentuk ketidakadilan tersebut.</p>
<p align="justify">Sanikem mengalami marjinalisasi ketika tanpa ditanya kesediaannya ia diserahkan kepada Herman Mellema. Namun—jika pun ia ingin menolak kehendak ayahnya—ia memang tak bisa berbuat apa-apa. Sebab seorang anak perempuan pada masa itu ketika belum menikah menjadi milik ayahnya. Ini dia contoh gamblang dari subordinasi: ketika seseorang (baca: perempuan) tidak memiliki dirinya sendiri, akan tetapi menjadi bagian dari milik pihak lain (baca: laki-laki) yang jadi ’penguasa’ nasibnya (bisa ayah, kakak lelaki, suami, dll). Lantas dalam kehidupannya sebagai seorang nyai yang mengelola <em>Boerderij Buitenzorg—</em>terutama setelah Herman Mallema menjadi linglung—ia dituntut untuk mengelola perusahaan perkebunan tersebut sekaligus tetap menjalankan tugas domestiknya dalam menata dan memelihara rumahnya, serta tugasnya sebagai ibu baik bagi Robert maupun Annelies. Beban kerja yang bertumpuk-tumpuk inilah yang dikenal dengan istilah <em>multi-burden</em> atau beban-ganda.</p>
<p align="justify">Seorang Nyai kaya seperti Nyai Ontosoroh tentulah tak kesulitan untuk tampil pantas, rapi dan bersih. Lebih-lebih dengan pengetahuan dan keterampilannya bersikap dan bertingkahlaku sesuai dengan etika barat. Namun ia tetap seorang Nyai. Secantik apapun dia, sebagus apapun pakaian dan perhiasannya, sesopan apapun tingkahlakunya, ia tetap seorang gundik—setara pelacur, tak lebih nilainya dari budak belian. Penilaian umum terhadap seorang manusia yang bukan didasari oleh kekuatan dan kebaikan karakter seseorang, namun didasarkan pada nilai-nilai yang merupakan asumsi orang lain terhadap dirinya; inilah yang bisa kita sebut pelabelan alias <em>stereotype</em>. Terakhir, soal kekerasan. Wah, ini banyak sekali contohnya. Mau pilih yang mana? Bagian ketika Sanikem dijual oleh ayahnya? Atau ketika ia terpaksa melayani Herman Mellema di tempat tidur? Atau ketika Maurits Mellema menghinanya di rumahnya sendiri? Atau ketika segala miliknya dialihkuasakan oleh pemerintah ketika Herman Mellema meninggal? Atau ketika anak kesayangannya dipisahkan darinya? Serangkaian kekerasan mewarnai hidup Sanikem. Dari orangtuanya, lelaki yang ’memilikinya’, juga dari negara.</p>
<p align="justify">Kondisi serupa masih terjadi di sekeliling kita. Kita masih banyak melihat perempuan yang dipinggirkan (baca: dimarjinalkan) baik di sektor ekonomi maupun politik. Sejauh mata memandang masih dapat kita temui perempuan yang mengalami subordinasi. Perempuan yang berkarier, bahkan yang sesungguhnya menjadi pencari nafkah utama buat keluarganya, masih diwanti-wanti orang seantero kampung: &#8220;Jangan lupa tugasmu sebagai istri. Sebaik-baiknya karier dan penghasilanmu, di rumah tetap saja tugasmu di dapur, sumur, dan kasur tak boleh terbengkalai.&#8221;; beban-ganda perempuan masih lestari hingga kini. <em>Stereotyping</em> juga masih mudah kita temui contohnya. Sebutan ’janda’, misalnya, masih membawa stigma buat perempuan. Demikian pula dengan kekerasan. Baik dalam bentuk kekerasan psikis, fisik, ekonomi, seksual, ataupun kekerasan yang dilakukan oleh negara terhadap perempuan—yang tak jauh berbeda dengan nasib Nyai Ontosoroh menjelang akhir kisah roman <em>Bumi Manusia</em>.</p>
<p align="justify">Kenyataan bahwa masih banyak perempuan Indonesia yang menikah secara siri juga sangat memprihatinkan. Apa bedanya nasib mereka dengan Nyai Ontosoroh? Ditimbuni kewajiban serupa (bahkan terkadang lebih dari) kewajiban seorang istri, tapi tidak ada haknya sama sekali. Juga perempuan Indonesia yang menikah dengan warga negara asing, hingga sekarang hidup mereka masih diliputi kekhawatiran.</p>
<p align="justify">Memang, harap-harap cemas perempuan Indonesia yang menikah dengan orang asing—terutama berkaitan dengan status anak yang terlahir dalam pernikahan itu—terjawab sudah dengan disahkannya Undang-Undang Kewarganegaraan tanggal 11 Juli silam. Undang-undang tersebut mengakui status sang ibu sebagai orang tua si anak, dan hak anak untuk menentukan kewarganegaraanya sendiri kelak ketika ia berusia 18 tahun. Namun pelaksanaan undang-undang ini masih harus menunggu terbitnya PP dan Juklak (tolong, jangan tanya saya apa arti singkatan-singkatan ini. Saya juga bingung, lagi pula bukan saya yang menciptakannya). 9 bulan lagi, kabarnya. Itu pun jika tepat waktu.</p>
<p align="justify">Boleh jadi kepedihan Nyai Ontosoroh ketika Annelies direnggut dari pelukannya memang tak bakal lagi dialami oleh perempuan Indonesia sekarang. Tapi coba bayangkan, berapa puluh tahun sudah perempuan Indonesia menunggu ini terjadi? Berapa tahun sudah diproklamasikan kemerdekaan negeri ini? Jangan-jangan benar yang dikatakan Nawal El Saadawi, &#8220;&#8230;di dalam perjuangan, perempuan akan dikorbankan paling dulu, tapi paling akhir dibebaskan.&#8221;</p>
<p align="justify"><strong>Menjalin Benang Merah Atau Meretas Untaian Penindasan?</strong></p>
<p align="justify">Diantara sekian banyak karya Pramoedya Ananta Toer yang masih bisa kita baca, cukup banyak yang mengetengahkan tokoh perempuan, diantaranya: <em>Panggil Aku Kartini Saja</em>, <em>Midah, Si Manis Bergigi Emas</em>, <em>Gadis Pantai</em>, <em>Larasati</em>, dan tentunya <em>Tetralogi Buru</em>. Sosok-sosok perempuan dalam karya Pramoedya nyaris selalu muncul sebagai karakter-karakter yang sulit dilupakan.</p>
<p align="justify">Sampai sekarang, saya sendiri masih terhantui oleh kisah <em>Gadis Pantai</em>—yang dari awal hingga akhir cerita tak ketahuan siapa namanya—dalam keluguannya dinikahkan dengan sebilah keris, dan pada akhirnya harus kehilangan segalanya, termasuk anak perempuan kesayangan yang baru dilahirkannya. Nasib yang tak jauh berbeda dengan nasib Nyai Ontosoroh.</p>
<p align="justify">Atau kisah hidup Ara—<em>Larasati</em>. Perempuan yang terpontal-pontal dalam pusaran arus pergerakan kemerdekaan. Dalam pahitnya kehidupan, ia tetap teguh meyakini inti dari perjuangannya: Kemerdekaan Indonesia.</p>
<p align="justify">Memang sejauh ini saya belum pernah mendengar orang menyebut karya Pramoedya sebagai sastra feminis, tapi inilah justru istimewanya. Karya-karya Pramoedya berusaha mencerminkan ragam corak realita di zamannya: tanpa pretensi, tanpa basa-basi. Dan jelas tercermin dengan jernih, seperti apa nasib perempuan bumi Indonesia ini; kecantikan mereka, kekuatan mereka, keteguhan hati mereka, kedalaman penderitaan mereka, penolakan mereka untuk tenggelam dalam kepahitan, dan tekad mereka yang membaja untuk bangkit dari derita&#8230;lagi, dan lagi, dan lagi&#8230; tanpa pernah ada kata menyerah.</p>
<p align="justify">Pramoedya telah mempersembahkan pada kita sebuah cermin. Sejauh ini yang sudah kita lakukan adalah memandangi pantulan di dalamnya. Selanjutnya terserah pada kita untuk mengambil sikap, apa yang akan kita lakukan terhadap apa yang telah kita lihat. Sukakah kita akan gambaran itu? Atau sudahkah tiba waktunya untuk mulai bergerak merangkai perubahan. Semua terserah pada kita sendiri: apakah kita akan terus menjalin benang merah, atau mulai meretas untaian penindasan terhadap perempuan? Bagaimanapun Pramoedya sudah mengingatkan:</p>
<p align="justify"><em>&#8220;&#8230;Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak, dia takkan menjadi apa-apa.&#8221; (Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia, 2002:139).</em></p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p><em>*</em> <font size="2">Tentang Seorang Perempuan Biasa</font></p>
<p><font size="2"><strong>Desy Budiyanti</strong> adalah seorang perempuan yang lahir di Bandung tanggal 2 Desember tahun 1973; berzodiak Sagittarius dan ber-shio Kerbau. Saat ini ia bermukim di kawasan Cihanjuang—Cimahi bersama kedua orang tua, seorang paman, dan bantal-bantal kesayangannya.</font></p>
<p><font size="2">Penyuka warna biru dan ungu ini menyelesaikan pendidikan sarjananya di jurusan Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Katolik Parahyangan, Bandung. Di tahun 1998, ia memutuskan untuk menjerumuskan diri dalam sebuah pergerakan yang—katanya—menjadi panggilan hidupnya, yaitu gerakan perlawanan terhadap segala bentuk kekerasan. Ini juga yang kemudian mendorongnya untuk menjadi penggiat di Jaringan Relawan Independen sejak tahun 2000 silam. Beberapa waktu belakangan, ia juga kerap nampak di banyak tempat, melakukan kampanye mengenai persoalan-persoalan yang berkait erat dengan kehidupan perempuan, bersama teman-temannya di Jaringan Mitra Perempuan Bandung.</font></p>
<p><font size="2">Kecintaannya pada diskusi mendorong ia dan beberapa pecinta diskusi lainnya membentuk mailing-list Sahabat Perempuan (beralamat di </font><u><font size="2" color="#0000ff">sahabatperempuan@yahoogroups.com</font></u><font size="2">). Beberapa waktu kemudian, mailing-list ini pun bertumbuh menjadi Jaringan Kerja Sahabat Perempuan: sebuah jejaring yang terdiri dari berbagai kelompok, lembaga, komunitas dan individu yang peduli akan perbaikan nasib perempuan. Konon, cita-cita mulia mereka adalah mewujudkan kehidupan dalam nuansa keadilan dan kesetaraan antar umat manusia; tanpa memandang gender, ras, etnis, keyakinan spiritual, dan besaran uang-saku. Masih jauh dari kenyataan, memang. Hingga kini mereka baru bisa berusaha dan berharap.</font></p>
<p><font size="2">Karena hidupnya senantiasa dipadati jadwal jalan-jalan, ngopi-sore bersama teman-teman, tidur ditemani bantal kesayangannya, diskusi, dan kampanye berantai mengenai isu-isu perempuan (yang secara bercanda ia sebut ’sirkus keliling’); acap kali ia kebingungan membiayai aktifitasnya sendiri. Oleh sebab itu, sejak tahun 2004 ia menjadi buruh di Radio Mustika—107,5 FM, dan mendapat bayaran per-jam.</font></p>
<p></font><font size="2">Desy Budiyanti adalah seorang perempuan yang biasa-biasa saja. Jangan percayai semua yang anda dengar, jangan terlalu serius menanggapi apa yang ia katakan. Sungguh, perempuan ini cuma perempuan biasa.</font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=7&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/nyai-ontosoroh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd60aa0a34902a9384c2f0e5e31d4c5e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pramoedyainstitute</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Comment Je &#8216;Rencontre&#8217; PAT</title>
		<link>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/comment-je-rencontre-pat/</link>
		<comments>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/comment-je-rencontre-pat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 May 2007 21:32:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>pramoedyainstitute</dc:creator>
				<category><![CDATA[Apresiasi Esai]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/comment-je-rencontre-pat/</guid>
		<description><![CDATA[Rini Nurul Badariah C’est un autre écriture sur Pramoedya Ananta Toer (PAT) après Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Sastra (Pramoedya Ananta Toer et Des Manifestations Littéraires) publié il y a quelques années. Je suis un nouveau membre du « milis » membacapramoedya &#8230; <a href="http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/comment-je-rencontre-pat/">Continue reading <span class="meta-nav">&#8594;</span></a><img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=6&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><font size="2"></p>
<p align="justify"><strong>Rini Nurul Badariah</strong></p>
<p align="justify">C’est un autre écriture sur Pramoedya Ananta Toer (PAT) après <em>Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Sastra</em> (<em>Pramoedya Ananta Toer et Des Manifestations Littéraires</em>) publié il y a quelques années.</p>
<p></font><span id="more-6"></span><font size="2"></p>
<p align="justify">Je suis un nouveau membre du « milis » membacapramoedya qui presque ne sais rien de cet écrivain fameux. Son nom est souvent mentionné dans le domaine politique, beaucoup plus que celui de littéraire. Comme je suis villageoise (est-ce que c’est ma faute ? Personne au campus m’a informeé qu’on a ce grand homme dans ce pays).</p>
<p align="justify">J’aime lire des éssaies et des livres non-fictions plus que des nouvelles, des histoires courtes, etc. Cela n’impêche mon « rendezvous » avec PAT. J’ai lui trouvé premièrement au Metro TV, dans un programme titré « Maestro ». J’ai vu le visage de PAT pour la première fois et je suis sûre de ne jamais aller l’oublier. C’est un visage d’un homme ayant une vie très dûre. Je me rappelle bien quand il a dit en souriant, « Je ne peux qu’écrire. Je ne peux pas faire d’autres. Je ne veux pas. » Quel caractère. Peut-être c’est un têtu pareil du mien, comme des personnes de notre zodiaque :p Il est têtu, mais c’est ce que j’admire tellement.</p>
<p align="justify">Alors, j’ai lu un interview par Martin Aleida dans le « Jurnal Prosa » (Le journal de Prose). Je me souviens des phrases racontant où il habite maintenant. Une grande maison dans un village, c’est mon rêve ! J’ai très jalouse.. mais peut-être tout les personnes créatives (surtout des écrivains) aime bien habiter dans un environnement tranquille. Encore, si je ne me trompe pas, PAT a dit qu’il ne peut plus écrire a cause de la santé. Il est trop vieux. Trop fatigué.</p>
<p align="justify">PAT est si populaire que des personnes célèbres ont arrangé une fête d’anniversaire pour lui. PAT, qui a eu 80, ont apparu touché. J’ai vu Titiek Puspa dans cette fête publié par un « infotainment » à la téle. Incroyable, mais c’est la vérité. Même Happy Salma adore PAT. Elle a pleuré au moment de son rendezvous avec lui (d’après « Kompas »).</p>
<p align="justify">Voyer « Tetralogi Pulau Buru » (Les Quatres Séries de ‘l’Ile de Buru) traduits en anglais au QB Setiabudhi est une fierté certaine. J’ai entré <u>www.bumimanusia.or.id</u> mais cela ne suffisait pas. Mon impression après lire un article sur PAT dans l’<em>On Off </em>a été écrit dans le « Kompal-kampil » (aussi nommé le <em>Bulletin du Club des Lecteurs de Pramoedya</em>), puis dans le « Radar Bandung » (le rubrique « Senandika »), enfin <em>PAT et et Des Manifestations Littéraires. </em></p>
<p align="justify">« Tokoh Seni dan Profesional : Pribadi-pribadi Pembuka Cakrawala » (Des Artistes et des Professionnels : des Hommes Extraordinaires) m’a informé une opinion de Marianne Katoppo : PAT a passé une vie de plaisir dans la prison car il écrivait quand des autres condamnés ont travaillé. On ne sait rien, c’est son droit de dire n’importe quoi. Un interview avec PAT est aussi là, dans ce livre. J’ai été au courant qu’il est javanais (mais il ne veut plus être dit un homme javanais, même son visage ne ressemble pas aux ceux de ce tribu) et..son anniversaire !! Celui de PAT est le 6 fevrier, le mien est un jour avant.</p>
<p align="justify">L’histoire est vraiment son metier. Il a été devenu professeur, c’est un miracle de l’éducation en Indonésie qui oblige des diplômes et des titres universitaires. Etant informée par un collégue sur « Mangir », je suis shockée et timide. Lui, une personne dont le metier est des bandes dessinées et des graphiques, le sait plus que moi.</p>
<p align="justify">Le mois du Ramadhan dernier, j’ai essayé de lire « Mereka yang Dilumpuhkan » (Des Personnes Stoppées) mais c’était un grand problème. Des lettres étaient petites, des spaces étaient tres serrés. Enfin, c’était mon mari qui a lu le livre. Il a gagné une seul phrase impressive : Une modestie est une honnêteté.</p>
<p align="justify">Après, j’ai emprunté « Midah si Manis Bergigi Emas » (Midah, La Femme Mignonne ayant des Dents d’Or) . C’est une nouvelle simple, même trop simple pour PAT. Encore une fois, je n’ai pas pu de lire tout de l’histoire. J’ai eu un succès pour un autre, il y a longtemps : « Korupsi » (La Corruption). Ce livre a tiré l’attention de mon petit frère bienque le style soit ancien. Grâce à un compte-rendu dans le magazine « Matabaca ».</p>
<p align="justify">De toute façon, des informations j’ai obtenu sur PAT a donné un pouvoir special. J’aime devenir examinatrice, j’aime plus examiner des choses pour que mes écritures soient qualifiées, j’ai tombé amoureuse à l’histoire..</p>
<p align="justify">&nbsp;</p>
<p align="justify">Rini Nurul Badariah</p>
<p><u></u><u></p>
<p align="justify"><a href="mailto:rininurul@yahoo.com">rininurul@yahoo.com</a></p>
<p></u></font></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/pramoedyainstitute.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=pramoedyainstitute.wordpress.com&amp;blog=1083211&amp;post=6&amp;subd=pramoedyainstitute&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pramoedyainstitute.wordpress.com/2007/05/09/comment-je-rencontre-pat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/cd60aa0a34902a9384c2f0e5e31d4c5e?s=96&#38;d=identicon" medium="image">
			<media:title type="html">pramoedyainstitute</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
